Saya mau berbagi cerita yang saya dapat sewaktu
mengunjungi Huta Siallagan (Samosir) Maret 2007 lalu.
Silahkan ditambahi dan dikoreksi bila perlu.
Foto2 versi lebih besar bisa dilihat di bagian album---------------------------------
Konon di suatu waktu antah berantah,
maka berkumpullah para raja di Huta Siallagan (perhatikan kursi2 batu di foto).
Tema rapat ini adalah pengadilan bagi terdakwa (musuh/penjahat),
serta tanggal terbaik untuk melaksanakan eksekusi potong kepala.

Setelah melihat ke Buku Laklak dapatlah ditentukan tanggal terbaik eksekusi.
Hari yang terbaik adalah hari dengan lambang padi.
Sebaliknya, hari terburuk (tidak boleh) adalah dengan lambang kalajengking.
Sang terdakwa kemudian dikembalikan ke penjaranya /pemasungan.
(kembali lihat gambar di atas).
Terdakwa akan diberi makanan terbaik upaya dagingnya enak!

Tibalah hari eksekusi.
Para raja kembali berkumpul, lengkap dengan sang Algojo.
Inilah tempat eksekusi itu. Raja2 berkumpul di kursi-kursi yang telah disediakan.

Terdakwa dibaringkan di atas "meja" pra eksekusi.
Kalo jaman sekarang, mungkin semacam tempat observasi sebelum operasi? ^_^
Terdakwa akan disayat2 sekujur tubuhnya,
meyakinkan bahwa ilmu2 kesaktiannya sudah benar2 lenyap.
Bila saat disayat tidak terdapat erang kesakitan, berarti terdakwa masih punya ilmu.
"Observasi" akan dilajutkan kembali dengan memberi air jeruk ke sekujur luka.
Masih belum mengerang kesakitan?
Siksa teruuuss..... Torehan2 pisau akan kembali menyayat seluruh tubuh.
Mengalirkan darah di setiap jengkal daging.
Berulang2 sampai diyakini bahwa ilmunya telah lenyap.
"Arrgghh....." jerit kesakitan memberi isyarat algojo untuk melaksanakan tugas.
Sang pesakitan dibawa menuju "sakkalan"-nya.
Jika sakkalan (tatakan) jaman sekarang terbuat dari kayu atau plastik, jaman dulu dari batu man..!
Leher sudah siap, tergeletak pasrah menunggu maut...
Sang algojo pun menghunus senjata (tidak jelas apakah pedang, pisau, golok, atau tangan kosong).
Dalam sekali tebas, "Jleebbb...!!"
Putuslah kepala, putuslah nyawa, lenyaplah si durjana.
Rakyat bersorak-sorai. Gembira menyaksikan suksesnya eksekusi.
(bila tidak putus dalam sekali tebas, sang algojo juga akan dipenggal)
Tubuh tanpa kepala berkelojotan lalu diam tak bergerak.
Tak bernyawa. tak ada lagi helaan nafas, hanya cucuran darah di setiap pembuluh.
Selanjutnya dibawa ke meja di hadapan para raja (lihat di gambar kedua).
Para raja mendapatkan jatah istimewa.. hati, ginjal, jantung, dll.
Sementara daging akan dicacah, dipotong kecil2 dan dibagikan kepada seluruh rakyat.
Sabar..sabar... jangan main dorong.. antri dong..
Semua kebagian, semua dapat, adil, dan merata.
Barbeque? Atau masak sop?
Tidak my man...!! Dagingnya dimakan MENTAH-MENTAH..!!
Mungkin kah jeruk yang dilumurkan membantu proses pematangan?
Seperti laiknya membuat masakan dekke naniura kah?
Wallahualam, saya belum pernah mencobanya ke daging manusia ^_^
Kepalanya... kepalanya... kepalanya....
Siapa yang mendapat kepala????
Bukan siapa2. Bukan paranak, parboru atau hula-hula.
Kepala akan dibuang ke danau toba.
Sejak hari itu, selama 7 hari ke depan, rakyat tidak diperbolehkan
memanfaatkan air danau untuk keperluan sehari2.
Baik untuk minum, mandi, mencuci, mencari ikan, dll.
Makanya bbrp hari sebelum eksekusi, rakyat harus bersiap2 untuk kebutuhan 7 hari ke depan,
Mengumpulkan cadangan air atau mencuci pakaian2 (dan mandi?)
Dipercaya, selama 7 hari itu, arwah si empunya kepala masih berkeliaran di sekitar danau.
Inilah dasar larangan itu.
Jadi, jika ada anekdot bahwa "orang batak makan orang",
Ya... ini
mungkin benar adanya.. tapi....
Kalaupun benar, itu jaman dulu bung!!
Sebelum agama kristen masuk ke tanah batak.
Orang batak di jaman internet ini masih ada yg makan orang?
Masih..!! kadang memang masih makan orang kok...
Pasti pernah dong denger ini :
"Awas, jangan macam2 kow sama org batak ya...
'kumakan' kow nanti..!!"Jadi, waspadalah.. waspadalah.. he...he...he....